Hari itu Abah pulang dengan membawa sebuah kantong plastik hitam diiringi anak-anak yang sangat bersemangat ingin segera 'membahas' isinya. Kantong tersebut berisi ikan. Satu, dua, tiga... delapan ekor ikan nila dan seekor ikan tambakan. Abah mendapatkannya dari Pak Haji yang pagi itu menguras kolam dekat dapur. Sebelumnya Abah memang berniat membelinya saat tahu kolam dikuras.
Seperti biasa, saat tiba di rumah mereka berlomba 'melaporkan' apa yang mereka alami di luar sana kepada Umah. Oya? Begitu? Masa? Wah...! dan seterusnya...dan seterusnya. Begitu upaya Umah menanggapi 'laporan' mereka yang bertubi-tubi.
Kemudian mereka beralih 'mengerubuti' Abah yang sudah siap membersihkan ikan-ikan tersebut. Tak pernah mereka kehabisan kata-kata. Mereka menemani Abah yang tengah membersihkan ikan-ikan itu dengan terus berceloteh seputar dunia ikan, sebagaimana yang mereka ketahui dari buku. Nama-nama jenis ikan, tempat hidupnya, nama-nama sirip, bentuk dan kegunaannya, bentuk mulut dan ekornya,...dsb, dsb. Mereka saling mengklaim yang ini ikanku dan yang itu ikanmu... Dengan sabar Abah pun menanggapinya.
Selesai membersihkan ikan, Abah pun menyiapkan pembakaran dan tusuk bambu. Siang itu kami ingin makan ikan bakar! Kembali mereka berceloteh membahas tentang arang dan bambu. Bagaimana membuat arang, kenapa warnanya hitam, kenapa bakar ikan pakai arang, bambu asalnya darimana, seperti apa pohon bambu,... dst, dst. Lagi-lagi, dengan sabar Abah menanggapinya.
Celotehan mereka 'semakin hangat' ketika membahas tentang asap dan api saat proses membakar ikan. Hmmm...wangi lapar nih!
Dan tibalah saatnya bersantap. Waaw... sedap sekali baunya! Urusan bakar ikan, Abah jagonya! Sewaktu masih tinggal di rumah Aki enam bulan lalu, kami suka menangkap dan membakar ikan di rumah Embu seminggu sekali kalau Abah libur mengajar. Sekarang baru nih bakar ikan lagi setelah pindah ke rumah baru yang lebih jauh. Tak heran bila kami menjadi sangat berselera.
Subhaanallaah... meskipun mulut sibuk melumat makanan, anak-anak yang kritis itu tetap mengoceh. Kali ini yang dibahas tentang rangka ikan. Umah sampai geleng-geleng kepala. Umah jadi ingat masa-masa kuliah di fakultas perikanan dulu. Bab morfologi dan rangka ikan menjadi salah satu bahan ujian yang cukup banyak menyita energi dan pikiran untuk dihafal. Tapi di sini, anak-anak itu tampak sangat menikmatinya. Tahu sebabnya? Sebab mereka belajar secara alami, bermula dari minat dan rasa senang, kemudian dikukuhkan dengan referensi buku dan keterangan dari orang-orang yang berkompeten di bidang itu, bukan sekadar pengetahuan teori yang dipaksakan. Dan begitulah prinsip pembelajaran dalam sekolah rumah atau homeschooling tea. Allaahua'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar